literaksi.com – Gempita tepuk tangan riuh memenuhi ruang pertemuan di Pyongyang. Ribuan delegasi dengan seragam militer dan setelan gelap berdiri serempak, memberikan penghormatan tertinggi kepada pria yang berada di podium utama. Di hari keempat Kongres Kesembilan Partai Buruh Korea (WPK), sebuah keputusan yang sebenarnya sudah bisa ditebak oleh dunia internasional akhirnya diketuk: Kim Jong Un kembali terpilih secara aklamasi sebagai Sekretaris Jenderal Partai Buruh Korea Utara.
Namun, di balik narasi “keinginan tak tergoyahkan” rakyat yang digaungkan kantor berita negara KCNA, ada pesan yang jauh lebih dalam dan berbahaya. Terpilihnya kembali Kim bukan sekadar rotasi kepemimpinan rutin lima tahunan. Ini adalah manifestasi dari penguatan absolutisme kekuasaan di tengah krisis pangan yang menghantui dan sanksi internasional yang kian mencekik.
Struktur Kekuasaan yang Kian Mengkristal
Kongres Kesembilan ini bukan hanya panggung bagi Kim Jong Un. Ini adalah momen krusial untuk melakukan “pembersihan” dan regenerasi di lingkaran dalam kekuasaan Pyongyang. Laporan menyebutkan bahwa lebih dari setengah anggota presidium kongres telah diganti. Sosok-sosok senior seperti Choe Ryong-hae, yang selama puluhan tahun menjadi pilar rezim, kini mulai tersisih dari daftar Komite Sentral.
Langkah ini dibaca oleh para analis sebagai upaya Kim untuk mengelilingi dirinya dengan loyalis muda yang lebih teknokratis namun tetap taat buta. “Kim sedang membangun sistem pemerintahan jangka panjang yang lebih stabil dengan menyingkirkan pengaruh generasi tua yang mungkin masih memiliki faksi sendiri,” tulis pengamat dari Seoul.
Nuklir Sebagai Poros Utama: Antara Pertahanan dan Gertakan
Dalam pidatonya yang sarat dengan retorika militeristik, Kim Jong Un menegaskan bahwa kemampuan pencegahan perang berbasis kekuatan nuklir telah ditingkatkan secara “radikal”. Bagi Pyongyang, nuklir bukan lagi sekadar alat negosiasi—itu adalah identitas nasional dan “pedang sakti” yang melindungi kedaulatan mereka.
Kim menyebutkan bahwa era di mana dunia bisa menekan Korea Utara dengan sanksi telah berakhir. Ia memproklamirkan bahwa militer Korea Utara kini mampu merespons secara proaktif terhadap segala bentuk invasi. Retorika ini muncul di saat semenanjung Korea berada pada titik didih tertinggi, terutama setelah Kim secara resmi mengubah konstitusi dan menetapkan Korea Selatan sebagai “musuh utama nomor satu”.
Ironi Ekonomi: Antara Rudal dan Perut Rakyat
Di balik keberhasilan peluncuran rudal balistik antarbenua dan satelit mata-mata, ada kenyataan pahit yang jarang tersorot oleh kamera KCNA: kondisi ekonomi domestik yang compang-camping. Meskipun kongres mengklaim adanya keberhasilan dalam mengatasi krisis ekonomi, data dari berbagai lembaga internasional menunjukkan bahwa kesenjangan antara desa dan kota di Korea Utara kian melebar.
Kim mencoba menjawab kegelisahan ini melalui “Kebijakan Pembangunan Regional 20×10″—sebuah rencana ambisius untuk mendirikan pabrik industri di setiap wilayah dalam kurun waktu sepuluh tahun. Namun, banyak pihak meragukan efektivitas kebijakan ini jika sumber daya negara tetap terkuras habis untuk membiayai ambisi nuklir yang mahal. Pertanyaannya kemudian: sampai kapan rakyat Korea Utara diminta “mengorbankan perjuangan” demi kemegahan militer sang pemimpin tertinggi?
Bayang-bayang Suksesi: Di Mana Kim Ju Ae?
Satu hal yang menarik perhatian dunia dalam kongres kali ini adalah absennya Kim Ju Ae, putri Kim Jong Un yang selama setahun terakhir selalu nampak di sisi ayahnya dalam berbagai parade militer. Absennya Ju Ae di acara politik sepenting kongres partai memicu spekulasi baru mengenai arah suksesi. Apakah Kim sedang meredam sorotan internasional terhadap putrinya, ataukah ada dinamika internal di dalam keluarga Kim yang belum terendus?
Menatap Lima Tahun ke Depan: Ancaman Bagi Stabilitas Global
Dengan terpilihnya kembali Kim Jong Un, arah kebijakan Korea Utara dalam lima tahun ke depan sudah bisa dipetakan: penguatan persenjataan nuklir, kedekatan strategis dengan Rusia dan Cina, serta sikap yang kian agresif terhadap Seoul dan Washington. Dunia kini berhadapan dengan pemimpin yang merasa telah memenangkan pertarungan melawan sanksi dan siap menantang tatanan global dengan kekuatan militernya.
Bagi komunitas internasional, ini bukan saatnya untuk lengah. Diplomasi mungkin buntu, namun pemahaman terhadap dinamika internal Pyongyang menjadi kunci untuk mencegah eskalasi konflik yang tidak terkendali di kawasan Asia Timur.
