counter free hit unique web Harga Beras Tinggi di Yogyakarta: KPPU Pantau Perilaku Pedagang dan Pasokan | Literaksi
NEWS  

Harga Beras Tinggi di Yogyakarta: KPPU Pantau Perilaku Pedagang dan Pasokan

Ilustrasi beras di Indonesia
Ilustrasi beras. (dok.Pixabay)

Literaksi.com – Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menggencarkan pemantauan harga beras di berbagai tingkatan, mulai dari hulu hingga hilir. Hal ini dilakukan untuk mengetahui penyebab tingginya harga beras yang masih terjadi di provinsi ini.

“Kami melakukan pantauan rutin setiap minggu di pasar tradisional dan ritel modern untuk melacak pergerakan harga,” kata Sinta Hapsari, Kepala Bidang Kajian dan Advokasi KPPU DIY, Senin (4/3/2024)

KPPU DIY ingin memastikan tidak ada pelanggaran UU No 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat yang menyebabkan harga beras melambung tinggi.

“Sejauh ini belum ditemukan praktik pelanggaran regulasi tersebut,” kata Sinta. “Kami juga sudah berkoordinasi dengan asosiasi penggilingan padi.”

KPPU DIY tidak hanya fokus pada perilaku pedagang, tetapi juga mempertimbangkan faktor lain seperti ketersediaan beras, alih fungsi lahan pertanian, harga pupuk, dan perubahan iklim.

“Permintaan beras terus meningkat, sementara produksi nasional tidak mencukupi. Ditambah lagi dengan budaya makan nasi yang masih kuat,” ujar Sinta.

Harga gabah kering giling (GKG) di tingkat petani yang mencapai Rp9.000 per kg juga mendorong kenaikan harga bahan pokok warga Indonesia ini. Tentu, ini menyebabkan harga beras premium dan medium melampaui harga eceran tertinggi (HET).

Berdasarkan kajian KPPU DIY, lonjakan harga komoditas bahan pokok ini sudah terjadi sejak tahun 2021 dan terus meningkat.

Sinta berharap panen raya padi di DIY pada April-Mei 2024 dapat menekan biaya produksi beras dan membantu menstabilkan harga di pasaran.

Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) DIY memprediksi panen raya padi pada April-Mei 2024 akan menghasilkan 303.542 ton GKG. Potensi ini diharapkan dapat memenuhi kebutuhan pangan masyarakat dan menekan harganya.

Kepala Bidang Tanaman Pangan DPKP DIY Andi Nawa Candra menjelaskan bahwa musim tanam padi di DIY mundur karena fenomena El Nino.

Ahmad muhammad

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *